• Suara Bali

Canggih, STMIK Primakara Bali Ciptakan Alat Deteksi Suhu Tubuh dan Masker

Updated: Nov 9


Di tengah pandemi COVID-19, Sekolah Tinggi Manajemen Informatika dan Komputer (STMIK) Primakara Bali justru melahirkan berbagai inovasi. Salah satunya adalah mengembangkan prototype Primakara Automatic Inspection Gate (PAIG) yang memiliki empat fungsi sekaligus.


Alat tersebut diciptakan dua dosen STMIK Primakara, yakni Made Adi Paramartha Putra, I Putu Satwika dan mahasiswa Jurusan Sistem Informasi, I Ketut Agus Juliana melalui Pusat Inovasi Primakara.


Adi Paramartha mengatakan empat fungsi yang dimiliki PAIG, yakni sebagai pengecekan suhu tubuh, deteksi penggunaan masker, hand sanitizer otomatis, dan check-in/check-out untuk mendapatkan data orang yang memasuki gedung. Dengan adanya pendataan orang yang memasuki suatu gedung, maka kapasitasnya dapat dikontrol, sehingga tidak melebihi ketentuan.


“Empat fungsi tersebut yang biasa diberlakukan di banyak fasilitas umum, namun dilakukan secara manual dengan bantuan seorang petugas,”  kata Adi Paramartha, Kamis (3/9/2020). PAIG memadukan teknologi Internet of Things (IoT) dan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI). Alat ini juga memanfaatkan sensor sebagai pengukur suhu serta kamera sebagai pendeteksi masker yang dikontrol penuh dengan menggunakan microcontroller.

Setiap pengunjung yang akan masuk ke gedung harus di-scan menggunakan PAIG. Jika suhu tubuh seseorang berada di bawah 37,3 derajat serta menggunakan masker, pengunjung akan diarahkan mengisi data diri untuk mengetahui waktu kunjungan dan nomor telepon.


Dengan adanya alat tersebut, maka dapat mengurangi kontak antara petugas security dengan pengujung. Petugas security tidak perlu lagi melakukan pengecekan masker dan temperatur kepada pengunjung, karena telah dilakukan oleh Automatic Inspection Gate.

“Di restoran dan kafe, petugas yang merangkap waiter/waitress harus bolak-balik melayani tamu yang check-in dan tamu yang sudah harus diberi hidangan. Akhirnya kami buatlah alat ini,” tutur Adi Paramartha.


Dia mengungkapkan, satu unit prototype PAIG sudah dipasang di Kantor Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDikti) Wilayah VIII untuk showcase.  Kedepan dia mengaku akan dibuat lagi untuk ditempatkan di kantor pemerintah kabupaten/kota di Bali.


“Sejauh ini sudah ada beberapa instansi yang order. Namun, target utamanya bukan itu. Melalui proyek-proyek ini, kita ingin menunjukan bahwa kampus itu hadir dan mampu berbuat sesuatu yang real,” tuturnya.


Adi Paramartha berharap STMIK Primakara dapat terus menghadirkan inovasi-inovasi yang bisa menyelesaikan masalah nyata di masyarakat. “Semoga alat ini dapat berguna untuk membantu melakukan penyesuaian kebiasaan yang baru,” katanya.


Dengan dibuatnya alat tersebut, dia berharap dapat meminimalisasi dan mencegah penyebaran COVID-19 yang telah melumpuhkan perekonomian di Bali. Kedepan, pihaknya akan kembali mengembangkan fitur alat tersebut agar menjadi lebih interaktif dan dapat menyapa pengguna saat berdiri di depan PAIG.



Fungsinya Paling Lengkap


Ketua STMIK Primakara I Made Artana mengatakan PAIG memang diciptakan untuk membantu petugas agar bisa mengurangi interaksi dengan para pengunjung. Setiap tempat biasanya kini telah memiliki petugas untuk melakukan pengecekan suhu tubuh dan sebagainya.


“Misalkan, kita ke Starbucks saja ada orang ngecek suhu, ngecek penggunaan masker, meminta penggunaan hand sanitizer,” kata Artana.


Namun, dalam penjagaan petugas itu ada satu hal yang tidak dilakukan, yakni pemantauan kapasitas ruang. Padahal, hal tersebut sangat penting dilakukan. Oleh sebab itu, saat menggunaakan PAIG, pengguna akan diminta melakukan scan barcode. Tujuannya, agar bisa menghitung jumlah orang yang masuk ke dalam tempat/gedung.


Tak hanya itu, saat masuk pengguna juga diminta memasukkan nomor telepon dan email. Tujuannya tracing jika dalam suatu gedung ditemukan kasus COVID-19. Nantinya pada saat keluar, pengguna juga akan diminta melakukan scan lagi. Dengan begitu, dapat diketahui jumlah orang yang masuk dan keluar, sehingga kapasitas gedung dapat dipantau.

“Jadi kita tahu, misalnya gedung Primakara tidak boleh lebih dari 100 orang, ya sudah kalau lebih dari 100 tidak diizinkan masuk,” jelasnya.


Artana menyebut alat yang dimiliki kampus yang dipimpinnya itu termasuk yang paling lengkap. Beberapa alat di pasaran sebenarnya sudah mulai tersedia, tetapi  fungsinya saling terpisah.


“(Alat) scan suhu ada banyak, scan masker juga ada. Nah, tapi harganya luar biasa. Saya pernah mempelajari penawaran, harganya itu Rp 60 juta dan fiturnya tidak selengkap yang punya kita,” ungkap Artana.


Berangkat dari hal tersebut, Artana mendorong kampusnya untuk membuat alat PAIG tersebut.  Dia menyebut sudah menjadi tugas bagi perguruan tinggi untuk melakukan inovasi. Setelah inovasi ini, nantinya dia bakal mempersilakan jika ada kampus atau perusahaan  yang bakal mengembangkannya lebih lanjut.


Apalagi jika melihat harga alat yang kini beredar di pasaran sangat mahal dan STMIK Primkara mampu membuatnya lebih murah. Jika dihitung, pembuatan PAIG hanya menghabiskan sekitar Rp 7 juta dan rencananya akan dilepas ke pasaran segarga Rp 8 juta. Meski sudah menciptakan alat tersebut, kata dia, STMIK Primakaran tidak terlalu memikirkan soal keutunggan.


Dalam menciptakan inovasi PAIG ini, Artana mengaku banyak belajar dari gate penyemprotan antiseptik secara otomatis yang pihaknya ciptakan dahulu. Saat penyemprotan desinfektan secara otomatis itu diciptakan, STMIK Primakara gelagapan untuk memenuhi permintaan sekitar 160 unit dari berbagai pihak. Apalagi ketika itu pihaknya sendiri hanya mampu memenuhi sekitar 30 unit.


Itu sebabnya, dalam inovasi PAIG ini, dia mempersilakan jika ada perusahaan yang ingin mengembangkannya dalam jumlah yang banyak. “Pengalaman dari ini, kita tidak akan fokus pada berdagang. Jadi, kita hanya ingin menunjukkan bahwa perguruan tinggi itu bisa dan memang harus menjadi sumber solusi,” tuturnya. (05)

9 views