©2021 STMIK PRIMAKARA.

Created by Epistula Communications.

FOLLOW US ON SOCIAL MEDIA

  • Tribun Bali

Hanya Dimiliki Beberapa PT, STMIK Primakara Raih 2 Sertifikat dari Organisasi Internasional



Sekolah Tinggi Manajemen Informatika dan Komputer (STMIK) Primakara berhasil mendapatkan sertifikat dari International Organization for Standardization (ISO) atau Organisasi Internasional untuk Standardisasi.


Bahkan, perguruan tinggi swasta yang memiliki tagline 'entrepreneurship campus' ini berhasil menyabet dua sertifikat sekaligus, yakni ISO 9001:2015 dan ISO 21001:2018.


Ketua STMIK Primakara, Made Artana menjelaskan, ISO 21001:2018 baru dimiliki oleh beberapa perguruan tinggi di Indonesia.


ISO ini memiliki nama resmi Educational Organisation Management System (EOMS).


"Jadi (ISO ini menilai) sistem manajemen untuk organisasi pendidikan atau sistem manajemen untuk perguruan tinggi," kata Artana di Denpasar, Jum'at (4/12/2020).


Pria yang pernah menyabet Juara I Penggerak Wirausaha Muda Berprestasi Tingkat Nasional tahun 2017 dan peraih Creative Young Entrepeneur Award (CYEA) dari Junior Chamber International ini menuturkan, karena berkaitan dengan sistem manajemen, ISO ini melihat semua hal di perguruan tinggi seperti pengelolaannya harus sudah sesuai dengan standar internasional.


"Nah itu yang sulit untuk memenuhinya dan di Bali sepertinya belum ada yang punya. Tapi di Indonesia, kata provider-nya, baru belasan yang punya ISO itu," jelasnya.


Melalui adanya ISO 21001:2018 ini, menurut Artana, bisa dimaknai bahwa pengelolaan perguruan tinggi STMIK Primakara sudah memenuhi standar internasional.


Padahal, dalam pemenuhan standar internasional ini sangatlah tidak mudah, terlebih STMIK Primakara masih dalam umur yang cukup belia.


Artana menuturkan, pihaknya menggali ISO tersebut agar STMIK Primakara mempunyai standar yang bagus sehingga targetnya nanti bisa berkembang secara sehat karena pengelolaan sudah baik mengikuti standar internasional.


"Standar internasional itu banyak. Misalnya contohnya bikin soal saja tidak boleh sembarangan dosennya. Soalnya harus dikalibrasi dulu, soalnya harus merujuk kepada kompetensi yang dituju," kata dia.


"Dan macam-macamlah, itu baru masalah soal. Nah sampai keamanannya, macam-macamnya dilihat. CCTV rusak saja itu engga masuk dalam standar, seperti itu. Jadi secara keseluruhan komponen di perguruan tinggi dilihat. Karena kan pengelolaan perguruan tinggi," imbuhnya.


Kemudian untuk ISO 9001:2015, Artana menjelaskan, adalah untuk sistem manajemen mutu internal. Pria yang pernah menyabet penghargaan The Most Outstanding Development Officer dan The Best Development Officer dari JCI Asia Pasific Development Council itu menegaskan bahwa hal ini erbeda dengan ISO 21001:2018. ISO 9001:2015 ini sudah biasa dimiliki oleh perguruan tinggi, beberapa di antaranya sudah ada di Bali.


Merasa Spesial


Artana menuturkan, STMIK Primakara merasa spesial karena bisa memiliki kedua ISO ini secara bersamaan, terutama ISO 21001:2018.


Diraihnya kedua ISO ini bisa dimaknai olehnya sebagai perbaikan manajemen, kualitas dan berbagai perbaikan lainnya di STMIK Primakara.


Ia menegaskan, dengan diraihnya dua sertifikat ISO ini menujukkan komitmen yang dimiliki oleh jajaran STMIK Primakara dalam memberikan pelayanan ekstra kepada mahasiswa.


Menurutnya, dalam upaya mendapatkan sertifikat ISO ini, pihaknya telah mengeluarkan banyak pengorbanan.


Maka dari itu, jika tidak didukung dengan komitmen maka akan sangat sulit diterapkan, terlebih ISO 21001:2008.


Salah satunya yakni menyangkut ketersediaan dana, karena berbagai sarana dan prasarana harus disesuaikan dengan standar ISO tersebut.


Kemudian yang kedua juga ada tuntutan dari manajemen SDM juga banyak sekali.


Dengan adanya penerapan ISO tersebut, tuntutan STMIK Primakara terhadap menajemen SDM bertambah tinggi jika dibandingkan dengan sebelum menerapkan ISO.


"Jadi itu bisa (diterapkan) kalau memang ada komitmen yang pertama dari manajemennya, pimpinannya, ketuanya, yayasannya. Yang kedua ya harus didukung tataran manajemen. Kalau tidak kita akan melakukan ini bersama-sama," terangnya.


Penguatan ke Dalam


Artana menuturkan, pihaknya di STMIK Primakara sudah tidak aktif bekerja sejak Maret 2020 lalu.


Keberadaan pandemi Coronavirus Disease 2019 (Covid-19) memaksa banyak orang untuk tidak bergerak, diam pada posisinya, bekerja lebih ke dalam dan bahkan ada beberapa yang berhenti sama sekali.


Oleh karena itu, pihaknya di STMIK Primakara lebih melakukan penguatan ke dalam.


Sehingga ketika masa pandemi, banyak hal yang dilakukan STMIK Primakara, seperti akreditasi prodi, ISO, rebranding dengan mengubah logo dan sebagainya.


"Nah kita sedang memanfaatkannya momen pandemi ini. Jadi momen pandemi kan mahasiswa tidak ada, biasanya kita cukup sibuk melayani mahasiswa. Sekarang kita melayani secara online. Nah di sini lah kita punya banyak waktu. Jadi kita manfaatkan itu untuk melakukan pembenahan di berbagai bidang," jelasnya.


10 views